Sumber ilustrasi: Pixabay
21 April 2026 14.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [21.04.2026] Masih bersinggungan dengan mikroplastik, salah satu kekhawatiran para ilmuwan adalah terkontaminasinya air minum dengan mikroplastik ini. Akan tetapi kekhawatiran tersebut nampaknya bisa sedikit terangkat dikarenakan penemuan terbaru: biji dari sebuah tanaman, Moringa oleifera, atau biji kelor, memiliki kemampuan untuk menarik mikroplastik dari air minum. Kemampuan ini dinilai menandingi prosedur kimia standar yang dipakai para ilmuwan.
Penelitian dari Institute of Science and Technology of São Paulo State University (ICT-UNESP) ini mengungkap potensi tanaman Moringa oleifera sebagai solusi alami untuk mengatasi pencemaran mikroplastik. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ACS Omega menunjukkan bahwa biji kelor mampu membantu menghilangkan partikel mikroplastik dari air dengan efektivitas yang sebanding dengan bahan kimia konvensional.
Moringa merupakan tanaman yang berasal dari India dan banyak tumbuh di wilayah tropis. Selama ini, daun dan bijinya telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan karena kandungan nutrisinya yang tinggi. Selain itu, penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa biji kelor memiliki potensi dalam proses pemurnian air, sehingga menarik perhatian para ilmuwan untuk dieksplorasi lebih lanjut.
Penelitian ini menganalisis penggunaan ekstrak garam dari biji kelor sebagai agen koagulasi. Gabrielle Batista, penulis utama studi, menjelaskan bahwa ekstrak tersebut memiliki kinerja yang sebanding dengan aluminium sulfat dalam mengolah air yang mengandung mikroplastik. Dalam kondisi air yang lebih basa, kinerja ekstrak tersebut bahkan menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan bahan kimia konvensional menurut penjelasan Batista.
Adriano Gonçalves dos Reis, peneliti yang memimpin studi, mengungkapkan bahwa penggunaan aluminium sulfat memiliki kelemahan berupa peningkatan bahan organik terlarut dalam air. Proses tambahan diperlukan untuk menghilangkan zat tersebut, sehingga berpotensi meningkatkan biaya pengolahan. Reis juga menekankan bahwa dalam skala kecil seperti komunitas pedesaan, penggunaan biji kelor dapat menjadi alternatif yang lebih efisien dan ekonomis.
Analisis metode dalam penelitian ini berfokus pada filtrasi in-line, yaitu teknik pengolahan di mana air terlebih dahulu dicampur dengan koagulan sebelum melewati filter pasir. Pendekatan ini efektif untuk air dengan tingkat kekeruhan rendah dan memungkinkan proses yang lebih sederhana dibandingkan sistem pengolahan bertahap yang kompleks.
Peran koagulasi menjadi penting karena mikroplastik memiliki muatan listrik negatif yang menyebabkan partikel saling menolak dan sulit digabungkan. Dengan adanya koagulan seperti ekstrak biji kelor, muatan tersebut dinetralkan sehingga partikel dapat menggumpal menjadi ukuran lebih besar dan lebih mudah dipisahkan melalui filtrasi.
Penelitian sebelumnya dari tim yang sama juga menunjukkan bahwa biji kelor efektif dalam berbagai tahap pengolahan air, termasuk flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi. Hasil tersebut memperkuat potensi penggunaan tanaman ini sebagai solusi alami dalam sistem pengolahan air.
Dalam uji laboratorium, para peneliti menggunakan mikroplastik jenis polivinil klorida sebagai kontaminan. Material ini dipilih karena dikenal memiliki sifat berbahaya bagi kesehatan dan sering ditemukan di lingkungan perairan. Untuk mendekati kondisi nyata, partikel tersebut terlebih dahulu dipaparkan radiasi ultraviolet agar menyerupai mikroplastik yang telah mengalami pelapukan alami.
Air yang telah terkontaminasi kemudian diproses menggunakan dua pendekatan, yaitu ekstrak biji kelor dan aluminium sulfat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kedua metode memiliki efektivitas yang serupa dalam mengurangi jumlah mikroplastik dalam air.
Pengukuran dilakukan menggunakan mikroskop elektron untuk menghitung jumlah partikel sebelum dan sesudah perlakuan. Selain itu, ukuran gumpalan partikel dianalisis menggunakan kamera berkecepatan tinggi dan teknologi laser untuk memahami mekanisme penggumpalan secara lebih rinci.
Penelitian lanjutan saat ini dilakukan dengan menggunakan sampel air dari Sungai Paraíba do Sul. Hasil awal menunjukkan bahwa ekstrak biji kelor tetap efektif dalam kondisi air alami, sehingga membuka peluang penerapan yang lebih luas di dunia nyata.
Reis juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran terhadap penggunaan koagulan berbasis logam seperti aluminium dan besi yang tidak mudah terurai serta dapat meninggalkan residu beracun. Kondisi tersebut mendorong pencarian alternatif yang lebih berkelanjutan dan aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa biji kelor memiliki potensi besar sebagai solusi alami untuk mengurangi mikroplastik dalam air minum, dengan efektivitas yang sebanding bahkan lebih baik dibandingkan metode kimia tertentu serta peluang penerapan luas terutama pada komunitas dengan keterbatasan sumber daya.
Diolah dari artikel:
“This common plant could clean microplastics from your drinking water” oleh Fundação de Amparo à Pesquisa do Estado de São Paulo. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260420014735.htm