Delta Sungai Dunia Tenggelam Lebih Cepat dari Kenaikan Laut?

Sumber ilustrasi: Unsplash
20 April 2026 17.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [20.04.2026] Kenaikan permukaan laut yang disebabkan oleh perubahan iklim merupakan suatu ancaman besar bagi wilayah pesisir, terutama delta sungai yang padat penduduk, sesuatu yang telah lama diamati para ilmuwan telah lama memahami bahwa kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim menjadi. Delta merupakan wilayah yang terbentuk dari endapan sedimen sungai dan dikenal sebagai kawasan subur sekaligus rentan terhadap banjir. Selama ini fokus utama dari penelitian ini lebih banyak tertuju pada kenaikan permukaan laut sebagai faktor risiko utama. Sejumlah studi juga menunjukkan bahwa penurunan permukaan tanah atau subsidensi dapat memperburuk kondisi tersebut.

Dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature oleh tim dari Virginia Tech, perhatian terhadap faktor penurunan tanah semakin menguat. Studi ini menunjukkan bahwa banyak delta sungai besar di dunia mengalami penurunan permukaan tanah dengan laju yang bahkan melampaui kenaikan permukaan laut, sehingga meningkatkan ancaman bagi ratusan juta penduduk yang tinggal di wilayah tersebut.

Penelitian ini merupakan analisis global pertama dengan resolusi tinggi yang memetakan perubahan elevasi di 40 delta sungai utama di dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir seluruh delta memiliki area yang mengalami penurunan tanah lebih cepat dibandingkan kenaikan permukaan laut di sekitarnya. Bahkan, pada 18 delta, tingkat subsidensi sudah melampaui kenaikan permukaan laut secara signifikan, yang berdampak langsung pada meningkatnya risiko banjir dalam waktu dekat.

Untuk memperoleh hasil tersebut, para peneliti menggunakan teknologi radar satelit canggih yang mampu mendeteksi perubahan ketinggian permukaan hingga skala detail. Data ini mencakup wilayah di lima benua dan memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai pola penurunan tanah yang sebelumnya sulit diamati secara menyeluruh.

Beberapa delta besar tercatat mengalami penurunan yang sangat cepat, termasuk delta Sungai Mekong, Nil, Chao Phraya, Gangga-Brahmaputra, Mississippi, dan Sungai Kuning. Wilayah-wilayah ini merupakan pusat aktivitas manusia yang intensif, sehingga tekanan terhadap lingkungan menjadi semakin besar.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa aktivitas manusia menjadi faktor utama yang mendorong subsidensi. Pengambilan air tanah secara berlebihan menyebabkan rongga di bawah permukaan tanah kehilangan tekanan penopang, sehingga tanah mengalami penurunan. Di sisi lain, berkurangnya aliran sedimen akibat pembangunan bendungan dan perubahan penggunaan lahan membuat delta kehilangan material alami yang seharusnya menjaga ketinggian permukaannya.

Urbanisasi yang pesat juga berkontribusi terhadap percepatan penurunan tanah. Pembangunan infrastruktur berat di wilayah delta meningkatkan tekanan pada tanah yang secara alami sudah lunak. Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan kondisi yang mempercepat penurunan permukaan tanah secara signifikan.

Para peneliti menilai bahwa fenomena ini sudah bukan ancaman jangka panjang dan sudah menjadi kejadian dengan dampak nyata saat ini. Risiko banjir meningkat bukan hanya karena air laut yang naik, tetapi juga karena permukaan tanah yang terus turun. Lebih dari 236 juta orang diperkirakan berada dalam kondisi rentan akibat kombinasi kedua faktor tersebut.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa penyebab utama subsidensi berbeda di setiap wilayah, meskipun penurunan air tanah menjadi faktor dominan secara global. Karena faktor penyebabnya berkaitan langsung dengan aktivitas manusia, maka upaya mitigasi dinilai masih memungkinkan dilakukan melalui pengelolaan sumber daya yang lebih baik.

Penelitian terbaru tersebut memperlihatkan delta sungai di berbagai belahan dunia mengalami penurunan permukaan tanah dengan laju yang sering kali melebihi kenaikan permukaan laut, didorong oleh aktivitas manusia seperti eksploitasi air tanah, berkurangnya sedimen, dan urbanisasi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko banjir bagi ratusan juta penduduk serta menegaskan pentingnya strategi pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan untuk mengurangi dampak yang semakin besar di masa depan.

Diolah dari artikel:
“Hundreds of millions at risk as river deltas sink faster than rising seas” oleh Virginia Tech. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260420014750.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *