Trik untuk Membasmi Rayap

Sumber ilustrasi: Pixabay
22 April 2026 09.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [22.04.2026] Rayap telah lama menjadi salah satu hama paling merusak pada bangunan berbahan kayu, khususnya pada spesies rayap kayu kering yang hidup dan berkembang di dalam struktur tanpa diketahui. Metode pengendalian yang umum digunakan selama ini antara lain fumigasi yang dikenal efektif namun memiliki berbagai keterbatasan diantaranya biaya tinggi, dampak lingkungan, serta ketidakmampuan mencegah infestasi ulang. Kondisi ini mendorong para ilmuwan untuk mencari pendekatan yang lebih efisien dan ramah lingkungan dalam mengendalikan populasi rayap.

Dalam sebuah studi terbaru dari University of California, Riverside, para peneliti menemukan pendekatan baru yang memanfaatkan perilaku alami rayap. Alih-alih mencari dan menghancurkan seluruh sarang, metode ini menarik rayap keluar dari persembunyian menggunakan senyawa alami bernama pinene. Senyawa ini merupakan aroma yang biasa dilepaskan oleh pohon hutan dan dikenali rayap sebagai sinyal keberadaan makanan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Economic Entomology menunjukkan bahwa penggunaan insektisida saja menghasilkan tingkat kematian sekitar 70 persen. Akan tetapi, ketika pinene ditambahkan, angka tersebut meningkat drastis hingga lebih dari 95 persen. Peneliti utama Dong-Hwan Choe menjelaskan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara penggunaan insektisida saja dan kombinasi dengan pinene, dengan peningkatan efektivitas yang sangat mencolok.

Rayap kayu kering barat sendiri memiliki peran ekologis penting sebagai pengurai kayu mati di alam, dengan bantuan mikroorganisme dalam sistem pencernaan mereka. Dong-Hwan Choe menjelaskan bahwa serangga tersebut berfungsi sebagai pendaur ulang alami dan memiliki persebaran yang luas. Namun, ketika rayap mulai menyerang struktur bangunan, peran tersebut berubah menjadi ancaman serius karena rayap tidak membedakan antara kayu alami dan material konstruksi.

Selama ini, fumigasi menjadi solusi utama untuk mengatasi infestasi rayap, terutama di wilayah seperti California. Metode ini melibatkan penutupan bangunan dan pengisian gas beracun untuk membasmi rayap secara menyeluruh. Meskipun efektif, penggunaan sulfuryl fluoride sebagai bahan utama menimbulkan kekhawatiran karena bersifat beracun bagi manusia dan berkontribusi terhadap efek rumah kaca. Selain itu, metode ini tidak memberikan perlindungan jangka panjang karena infestasi dapat terjadi kembali dalam beberapa tahun.

Sebagai alternatif, metode injeksi lokal mulai digunakan dengan cara menyuntikkan insektisida langsung ke dalam kayu yang terinfestasi. Pendekatan ini lebih hemat biaya dan menggunakan bahan kimia dalam jumlah lebih sedikit. Dong-Hwan Choe menyatakan bahwa metode ini secara teori lebih efisien karena bersifat terarah dan dapat memberikan perlindungan tambahan pada kayu yang telah dirawat.

Tantangan utama dalam metode ini adalah menemukan lokasi pasti rayap di dalam kayu, mengingat sistem terowongan yang kompleks dan tersembunyi. Insektisida konvensional hanya efektif jika rayap bersentuhan langsung dengan bahan tersebut. Penambahan pinene menjadi solusi terhadap masalah ini, karena aroma tersebut mampu menarik rayap dari jarak tertentu menuju area yang telah diberi insektisida.

Dong-Hwan Choe menjelaskan bahwa bahkan dalam konsentrasi rendah, pinene mampu menarik rayap secara efektif. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pinene tidak berfungsi sebagai feromon, namun lebih sebagai sinyal yang diasosiasikan dengan sumber makanan, sehingga memicu respons alami rayap untuk mendekat.

Insektisida yang digunakan didalam studi adalah fipronil yang juga umum digunakan untuk mengendalikan semut. Meskipun fipronil dapat berbahaya bagi organisme tertentu jika tersebar di lingkungan, penggunaannya dalam penelitian ini dilakukan dengan metode injeksi ke dalam kayu, sehingga meminimalkan risiko terhadap lingkungan sekitar.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pemahaman terhadap komunikasi kimia pada serangga dalam mengembangkan strategi pengendalian hama yang lebih efektif. Dong-Hwan Choe menekankan bahwa pemahaman perilaku serangga tidak hanya memberikan wawasan ilmiah, tetapi juga memungkinkan pengembangan metode pengendalian yang lebih efisien dengan penggunaan bahan kimia yang lebih sedikit.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa pemanfaatan senyawa alami seperti pinene dapat secara signifikan meningkatkan efektivitas insektisida dalam mengendalikan rayap, dengan memanfaatkan naluri pencarian makanan pada serangga tersebut. Pendekatan ini meningkatkan tingkat kematian rayap hingga lebih dari 95 persen serta memberikan solusi yang lebih murah dan berpotensi lebih ramah lingkungan dibandingkan metode konvensional seperti fumigasi.

Diolah dari artikel:
“95% success rate: This new trick lures termites straight to their death” oleh University of California – Riverside. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260420233930.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *