Sumber ilustrasi: Freepik
26 April 2026 07.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [26.04.2026] Para astronom telah lama memahami bahwa alam semesta dipenuhi berbagai jenis ledakan bintang, mulai dari supernova hingga kilonova. Supernova terjadi ketika bintang masif mencapai akhir hidupnya dan meledak, menyebarkan unsur-unsur seperti karbon dan besi ke ruang angkasa. Sementara itu, kilonova merupakan peristiwa yang jauh lebih langka, terjadi ketika dua bintang neutron bertabrakan dan menghasilkan unsur-unsur berat seperti emas dan uranium. Selama ini, hanya satu kilonova yang benar-benar terkonfirmasi, yakni peristiwa GW170817 pada tahun 2017 yang berhasil diamati melalui gelombang gravitasi dan cahaya.
Akan tetapi sebuah peristiwa kosmik baru yang terdeteksi pada tahun 2025 mulai mengguncang pemahaman tersebut. Ledakan yang diberi nama AT2025ulz awalnya tampak seperti kilonova, tetapi kemudian menunjukkan karakteristik yang lebih mirip supernova. Perubahan perilaku ini membuat para peneliti menduga bahwa mereka mungkin sedang menyaksikan jenis ledakan baru yang belum pernah diamati sebelumnya.
Peristiwa ini pertama kali terdeteksi melalui gelombang gravitasi pada 18 Agustus 2025 oleh detektor LIGO dan Virgo. Sinyal tersebut menunjukkan adanya dua objek yang bertabrakan, dengan setidaknya satu objek memiliki massa yang lebih kecil dari bintang neutron pada umumnya. Menurut David Reitze, sinyal tersebut menarik perhatian karena meskipun tingkat kepastiannya tidak setinggi deteksi lain, karakteristiknya menunjukkan kandidat peristiwa yang tidak biasa.
Beberapa jam setelah deteksi gelombang gravitasi, teleskop Zwicky Transient Facility menemukan sumber cahaya merah yang cepat meredup di lokasi yang sama. Objek ini awalnya menunjukkan ciri khas kilonova, yaitu pancaran cahaya merah akibat pembentukan unsur berat. Mansi Kasliwal menjelaskan bahwa selama sekitar tiga hari pertama, fenomena tersebut sangat menyerupai kilonova yang diamati pada tahun 2017, sehingga banyak astronom berusaha mengamati dan menganalisisnya secara intensif.
Namun demikian, perilaku objek tersebut berubah secara drastis. Beberapa hari kemudian, cahaya kembali meningkat, bergeser ke warna biru, dan menunjukkan keberadaan hidrogen dalam spektrumnya, yang merupakan ciri khas supernova tipe runtuh inti. Perubahan ini membuat sebagian ilmuwan menganggap peristiwa tersebut hanyalah supernova biasa yang tidak terkait dengan sinyal gelombang gravitasi sebelumnya.
Tim peneliti yang dipimpin Kasliwal justru melihat kejanggalan dalam data tersebut. Karakteristik AT2025ulz tidak sepenuhnya cocok dengan kilonova maupun supernova. Selain itu, data gelombang gravitasi mengindikasikan kemungkinan adanya bintang neutron dengan massa di bawah Matahari, sesuatu yang belum pernah diamati secara langsung.
Brian Metzger mengemukakan kemungkinan bahwa dua bintang neutron kecil terbentuk dari ledakan supernova awal, kemudian dengan cepat saling mendekat dan bertabrakan, menghasilkan kilonova di dalam sisa-sisa supernova tersebut. Dalam skenario ini, supernova menciptakan kondisi yang menyembunyikan kilonova di dalamnya, sehingga menghasilkan fenomena gabungan yang disebut sebagai “superkilonova.”
Metzger juga menambahkan bahwa teori pembentukan bintang neutron bermassa kecil melibatkan bintang yang berputar sangat cepat dan mengalami pembelahan atau fragmentasi saat runtuh. Jika objek-objek ini kemudian bergabung, peristiwa tersebut dapat menghasilkan kombinasi sinyal supernova dan kilonova secara bersamaan.
Meskipun penjelasan ini menarik, para ilmuwan menekankan bahwa bukti yang ada עדיין belum cukup untuk memastikan bahwa AT2025ulz benar-benar merupakan superkilonova. Kasliwal menyatakan bahwa pengamatan lebih lanjut diperlukan, termasuk pencarian peristiwa serupa di masa depan menggunakan teleskop dan proyek observasi baru.
Peristiwa AT2025ulz menghadirkan teka-teki baru dalam astronomi dengan menunjukkan karakteristik campuran antara kilonova dan supernova, serta kemungkinan keterlibatan bintang neutron bermassa kecil. Temuan ini membuka peluang adanya jenis ledakan kosmik baru yang disebut superkilonova, meskipun bukti yang ada masih bersifat awal. Penelitian lanjutan dan pengamatan tambahan akan menjadi kunci untuk memahami fenomena ini dan memperluas pengetahuan tentang proses ekstrem yang terjadi di alam semesta.
Diolah dari artikel:
“Astronomers may have found a strange new kind of cosmic explosion” oleh California Institute of Technology. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260423031532.htm